Dompet hitam kumal ini, masih setia nyelip di saku belakang celana jeans yang aku pakai, ke manapun aku pergi. Ya, kemanapun aku pergi. Kalau aku sedang tidak pergi tentu tak perlu repot-repot mengantonginya. Dompet hitam ini aku beli tak sekitar 2 tahun lalu di sebuah outlet kecil di dekat pasar Jati. Dompet hitam ini aku tebus dengan harga yang tak lebih dari 25 ribu. Memang murah, bukan dompet bermerk. Bukan pula dompet dengan desain yang mewah atau neko-neko. Tapi dompet ini sudah cukup untuk menyimpan sedikit rezeki dari Allah. Cukup untuk menyelipkan KTP, ATM, dan beberapa lembar kartu nama, juga selembar fotomu. Benar, fotomu. Aku sedang tak salah tulis. Yang nyelip di dompet ini adalah fotomu. Foto yang aku curi dari ruangan TU SMA kita dulu. Continue reading
Terima kasih, Mie Instan :p
Tadi malam sekitar jam 12 malam saya pergi ke kafe (sebut saja begitu, padahal cuma warkop) langganan untuk sekedar nyari pengganjal perut. Ya begini ini nasib seorang bujangan, hidup di perantauan pula. Seandainya ada yang masakin tentu gak perlu repot-repot ke warkop, eh, kafe tengah malem gitu, kan? Yah, tak apalah, syukuri saja. Nah, di warkop langganan ini saya biasa pesan mie rebus. Yup, alhamdulilah mie instan yang biasa dipanggil indomie ini masih jadi solusi alternatif, pertolongan pertama pada kelaparan, obat paling mujarab untuk perut keroncongan, terutama bagi bujangan + anak kost seperti saya ini. Continue reading
Ketinggalan Momen Bersejarah
Beberapa hari lalu (sudah agak lama sih, mungkin lebih dari seminggu) saya dapat SMS dari mas Ardhi ‘Bhegank’ Suhantoro. Dia adalah temen kerja saya dulu di sebuah restoran hotel di Mangga Besar. Intinya dia ngajak kumpul-kumpul bareng temen-temen mantan karyawan situ. Kebetulan yang dia ajak adalah anak-anak mantan divisi Barista. Yup, saya dulu kerja di restoran itu sebagai Barista. Itu lho tukang racik minuman, terutama kopi. Mirip seperti Bartender, tapi kalau Bartender spesialisasinya lebih mengarah ke minuman beralkohol. Nah, mas Ardhi ini salah 1 senior saya. Continue reading
Saya dan Fanatisme Sepakbola
Sepakbola merupakan olahraga paling populer di dunia yang digemari seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari anak-anak sampai orang tua, para pejabat juga rakyat biasa, kaum pria maupun wanita, rakyat desa hingga kota, orang miskin sampai orang kaya, hampir semua menyukai olahraga yang dimainkan oleh 11 pemain dalam 1 tim ini. Pertandingan sepakbola liga profesional biasanya diadakan di akhir pekan dan di tayangkan di televisi-televisi nasional. Kenapa akhir pekan? Sebab pada saat itulah kaum pekerja sedang libur. Nah, pertandingan sepakbola diharapkan menjadi hiburan bagi mereka. Syukur-syukur mereka mau menonton langsung ke stadion, tentu inilah yang diharapkan oleh pengelola pertandingan. Tentu mereka ingin tiket pertandingan yang disediakan ludes diserbu penggemar sepakbola yang nonton langsung di stadion. Sehingga memberi keuntungan tersendiri bagi kas klub. Di Eropa sana, hasil penjualan tiket ikut menyumbang keuangan klub, di samping penjualan marchandise dan dana dari sponsor-sponsor tentunya. Continue reading
Usia dan Kedewasaan
Kemarin (24/02) saya ‘ngobrol’ bareng seorang teman di twitter. Namanya sebut saja: Mbak Didi (begitu ia biasa disapa). Hehe, meski dari ke-3 kata namanya ga ada unsur ‘Di’, tapi ia bisa dipanggil Di. Mirip sama saya, walau nama di KTP tertera Aan Nugroho, di rumah saya dipanggil Adi.
Cerita berawal ketika ia mengomentari Saeful Bahri, seorang anggota kepolisian yang gantengnya bikin heboh acara-acara gosip di tipi. Saya sendiri tidak begitu mengikuti beritanya. Mungkin akan lain cerita seandainya berita di tayangan gosip adalah ‘heboh polwan cantik & seksi’. Nah, bisa saja saya tak bisa lepas dari Insert, Selebrita, Kiss, dan acara-acara sejenis itu. (kok saya malah hafal ya?
)
Continue reading
Go Blog
Pagi ini saya bangun kesiangan rupanya. Alarm hape yang saya set tepat jam 8 pagi ternyata tak sanggup membangunkan pulas saya. Padahal lagunya Simple Plan dan Natasha Bedingfield berjudul Jet Lag (sudah cukup nge-rock sebenarnya, kalau tak mau dikatakan lumayan menusuk kuping) inilah yang rutin tiap pagi mengusik mimpi pagi saya. Iya, bukan mimpi malam, secara saya baru bisa benar-benar terlelap saat jarum jam menunjuk angka 2 dini hari. Sudah hampir pagi, bukan? Di saat orang-orang ‘normal’ sudah terbangun untuk mendirikan sholat tahajjud barangkali, atau melakukan hal-hal yang lain yang karena alasan tertentu tidak bisa saya sebutkan di sini. Misalnya mendusin mau pipis atau minum. Lhah, malah jadi disebutin. Maka orang aetengah kalong seperti saya masih bersusah payah mengais-ais kantuk di atas kasur di antara bantal dan guling. Ahahaha, sruput kopi dulu ah. Mantab.
**** Continue reading
Blackberry Syndrome

siapa sih yang gak kenal sama blackberry (biasa disebut bb/bebe) ? smart phone asal kanada ini belakangan sudah menjadi bagian gaya hidup masyarakat indonesia. dengan sederet kecanggihannya, ponsel ini dianggap sebagai barang mewah oleh masyarakat kita. meskipun kalau ditinjau dari segi harga maupun fitur-fitur masih banyak ponsel lain yang setara dan lebih baik dari blackberry. lihat saja iphone dan andriod. tapi, di indonesia blackberry masih dianggap yang ter. pokoknya kalau sudah pengang bebe itu kesannya gimana gitu. dianggap orang kaya, eksekutif muda, parlente, dan semacamnya. cara bawa bebe juga beda, bukan dikantongin, tapi ditenteng. iya, ditenteng. kenapa? yah, secara blackberry gitu. biar semua orang tahu, nih gue punya bebe. begitu mungkin yang ada dibenak mereka. sekali lagi ini cuma ‘mungkin’.
Continue reading